Warga Sidogemah menghadang alat berat masuk pemukiman sebelum ganti untung pembebasan lahan terdampak tol Semarang-Demak.

Warga Sidogemah RT 4 RW 1, Asror mengatakan, ada 514 bidang yang terdampak tol Semarang-Demak.

Namun belum ada separuhnya yang menerima ganti untung, yaitu tahap awal 107, dan tahap dua 28.

"Tuntutan warga memohon agar pemerintah segera menyelesaikan pembebasan lahan di Desa Sidogemah dan sesuai harga ganti untung pemerintah," jelasnya Selasa (21/1/2020).

Lanjutnya, pembebasan lahan belum rampung dilakukan namun sudah mulai pengerjaan proyek.

Ia menambahkan, sekira enam rumah yang sudah dihancurkan di Desa Sidogemah atas dimulainya pengerjaan proyek tol Semarang-Demak.

"Warga seperti dibenturkan dengan pelaksana proyek," jelasnya.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa warga banyak yang kecewa atas besaran ganti untung yang diberikan lantaran tidak berdasarkan rincian.

Ia menyebut, bidang tanah seluas 101 meter milik Masun mendapat Rp 60 juta, sedangkan bidang tanah milik Masanah seluas 88 meter mendapatkan Rp 143 juta.

"Selain itu, harga kaplingan tanah di Desa Tambakroto Kecamatan Sayung per meternya Rp 1,2 juta."

"Jadi ya tidak bisa digunakan untuk membeli tanah," jelasnya.

Sementara satu warga lain RT 4 RW 1, Ari Kurniawan (28) sudah mulai menghancurkan rumahnya untuk persiapan pindah lantaran terdampak tol Semarang Demak.

Lanjutnya, satu rumahnya yang tak ia tempati berukuran 6x19 meter sudah ia pindahkan atapnya.

"Rumah saya dua namun satu sertifikat, yang kosong sudah mulai saya ambil atapnya," jelasnya.

Sementara Kepala Desa Sidogemah Khanafi menyebut, pihak kontraktor belum melakukan koordinasi ke pemerintah desa dan warga.

Lanjutnya, lahan warganya yang sudah dibebaskan sebanyak 135 dari keseluruhan 514 bidang.

"Koordinasi pihak desa dengan penyedia lahan sudah baik, namun pihak kontraktor belum, mengingat baru dimulainya pengerjaan proyek," jelasnya.

Sementara menanggapi pembagian besaran ganti untung lahan, ia menjelaskan, penyedia lahan berkoordinasi langsung dengan warga.

Lanjutnya, hal tersebut mengenai kerahasiaan nominal harga yang ditentukan, termasuk bangunan yang ada di atasnya.

"Tahap pembebasan selanjutnya dijadwalkan Januari 2020, namun setelah saya konfirmasi ke pihak PTK belum ada tindak lanjut, kemungkinan akan mundur lagi," jelasnya.

Terkait sudah masuknya alat berat di permukiman desanya tersebut, yang berdampak pada getaran dan udara di perkampungan, ia memohon agar dari pihak kontraktor segera melakukan koordinasi dengan pihak desa maupun warga.

Sementara Camat Sayung, Sururi mengatakan desa yang terdampak pengerjaan tol Semarang Demak di antaranya, Sriwulan, Purwosari, Bedono, Loireng, Sidogemah, Sayung dan Tambakroto.

Ia menyebut dari sekian desa yang terdampak tol Semarang-Demak, mayoritas yang mendapatkan ganti untung yaitu Desa Sidogemah, terdapat 514 bidang.

Ia menjelaskan pembebasan lahan sudah dilakukan sebanyak dua tahap di Desa Sidogemah.

"Pembebasan lahan baru di Desa Sidogemah. Terkait adanya tahap selanjutnya, jika sudah ada informasi dari pihak terkait, baik dari tim BPN dan yang lain, kita akan mengundang warga yang bersangkutan. Insyallah semua akan terbayarkan," jelasnya.

Sementara Kepala Paguyuban Kades di Kecamatan Sayung, Zamroni menyebut pengerjaan tol Semarang -Demak merupakan hal yang sudah lama ditunggu realisasinya.

Lanjutnya, tol Semarang - Demak akan dibangun dari Kecamatan Sayung hingga Demak (perbatasan Kudus).


Source : Tribunjateng.com