Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Sosial (Dinsos) telah melakukan penandaan warga pra sejahtera dengan menempelkan stiker di rumah-rumah warga Kota Semarang.

Rumah yang ditempeli stiker tersebut juga sebagai tanda bahwa penghuni telah memperoleh bantuan sosial dari Pemerintah Pusat.

Bantuan sosial itu berupa Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)/Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Masing-masing warga akan mendapatkan jenis bantuan sesuai kategori yang dibutuhkan.

“Tujuan penempelan stiker di rumah KPM (Keluarga Penerima Manfaat) adalah untuk memastikan bantuan program pengentasan kemiskinan itu tepat sasaran,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Penanganan Fakir Miskin (PFM) Dinsos Kota Semarang Primasari YS kepada Tribunjateng.com, Kamis (9/1/2020).

Pihaknya telah memulai penempelan sejak 2019 lalu di lima kecamatan, yakni Pedurungan, Gayamsari, Gajahmungkur, Semarang Barat dan Tugu.

Sedangkan pada 2020 ini ada empat kecamatan lagi yang ditempeli stiker itu, di antaranya adalah Candisari, Semarang Tengah, Semarang Timur dan Semarang Selatan.

“Kegiatan pada 2020 ini sudah di empat kecamatan dengan total 42 kelurahan sebanyak 6461 rumah penerima bansos,” tambahnya.

Stiker-stiker tersebut pada umumnya ditempel di jendela atau pintu depan rumah. 

Berbentuk kotak, berawarna merah dan putih, serta terdapat tulisan “Kami adalah Keluarga Prasejahtera” dan “yang berdaya dan siap untuk mandiri”.

Sebagai informasi, pengentasan kemiskinan di Kota Semarang telah dimulai sejak 2016 lalu.

Dari penuturan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (Hendi), ada gejala yang menunjukkan perubahan positif cukup signifikan, yaitu berkurangnya jumlah kemiskinan dan melejitnya indeks pembangunan manusia (IPM).

“Namun kita tidak boleh berpuas diri dulu.

Kita harus berupaya mempercepat pengentasan kemiskinan agar masyarakatnya semakin makmur,'' pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang Bunyamin mengatakan bahwa jumlah masyarakat kurang mampu di Kota Semarang sekitar 70 ribu jiwa dari total sekitar 1.670.000 jiwa.

Angka tersebut berarti menunjukkan persentase kemiskinan di Kota Semarang sekitar 3.98 persen.