Perkembangan bisnis batik di Semarang lambat laun semakin bergairah. Kota sekarang memiliki berbagai gambar motif batik khas seperti batik Asem Tugu, batik Blekok, batik Lawangsewu, batik Sri Ratu, batik Tugumuda dan batik Semarang.



Pecinta batik dari Fakultas Hukum Undip, Prof Retno Saraswati mengatakan, para pengusaha batik banyak yang melakukan inovasi pada batik yang mereka produksi. Mulai dari motif hingga tekniknya.

Retno menilai, gambar motif batik bisa dikembangkan sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Ada tema-tema khusus yang bisa dikembangkan misalnya hewan, bunga, tanaman, dan masih banyak lagi.

Sebagai contoh di Fakultas Kelautan Undip, mereka bisa mendesain batik bermotif hewan-hewan laut seperti ikan, terumbu karang, kapal dan lain-lain. "Sekarang banyak desa wisata yang mengenalkan cara membatik," katanya menyontohkan.

Artinya, apapun potensi yang ada di daerah atau ciri khas daerah bisa dijadikan media mencari inspirasi atau ide. Namun demikian, usaha mengembangkan batik harus didukung penuh oleh berbagai pihak.

Selama ini, para pengusaha batik seringkali kesulitan dalam hal pemasaran. Akibatnya, antara jumlah produksi dan jumlah distribusi tidak seimbang. "Sehingga, produknya hanya menumpuk di gudang," imbuhnya.

Lanjut dia, pemerintah bisa mengimbau penggunaan batik tiap pekan sekali di beberapa instansi. Sekolah-sekolah juga diimbau agar mengajak anak didiknya mengunjungi sentra pembuatan batik. Manfaatnya, selain mengenalkan batik sejak dini, mereka juga diperkenalkan jiwa intrepreneurship. Sehingga, generasi muda semakin cinta dengan batik.

"Saat ini banyak anak muda yang senang mengenakan batik. Mereka sudah tidak menganggap batik sebagai sesuatu yang kuno atau tua. Mengapa tidak memanfaatkan momen itu?," katanya.

Ditambahkan, masa depan usaha batik sangat cerah. Batik semakin mendunia, bahkan dalam forum PBB banyak peserta yang mengenakan batik.

Sumber : suaramerdeka.com